A. Konsep Tanah Longsor

Tanah longsor adalah gerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng. Longsor terjadi karena massa tanah atau batuan yang jenuh air meluncur di atas lereng miring yang kedap air. Massa tanah atau batuan yang rawan mengalami longsor biasanya terdiri atas tanah liat atau mengandung kadar liat tinggi yang susah meloloskan air, dan juga dapat berupa lapisan batuan seperti napal liat.

 

B. Lokasi atau Daerah yang Rawan Mengalami Bencana Tanah Longsor

Tanah longsor memang sangat berbahaya. Namun, tidak semua wilayah dapat mengalami bencana longsor. Beberapa wilayah yang rawan terhadap tanah longsor di antaranya adalah.

 

  1. Wilayah yang memiliki lereng yang terjal, dengan kemiringan lereng di atas 15%.
  2. Tanah longsor hanya terjadi di wilayah miring atau lereng terjal hingga tegak. Lereng yang memiliki rata-rata kemiringan di atas 15% atau di atas 10° memiliki karakteristik lereng curam sehingga rawan terhadap longsor dan erosi.


  3. Wilayah miring dengan curah hujan yang tinggi
  4. Curah hujan yang tinggi akan meningkatkan kandungan air dalam tanah sehingga tanah menjadi jenuh air dan rawan longsor, serta meningkatkan erosi.


  5. Wilayah yang miring dengan vegetasi pohon besar dan tinggi namun akarnya tidak dalam
  6. Pohon yang tinggi dengan akar dangkal akan meningkatkan beban pada lahan miring.


  7. Wilayah miring yang tidak ditanami pepohonan dan gundul
  8. Wilayah gundul tidak memiliki akar tanaman yang berfungsi menahan lereng dan berperan mengurangi erosi tanah.


  9. Wilayah yang memiliki batuan mudah larut oleh air, misalnya batu gamping
  10. Batuan gamping mudah larut sehingga lama kelamaan akan hilang dan menyebabkan lereng runtuh.


  11. Wilayah miring yang mengalami erosi yang cukup parah
  12. Lahan miring yang tererosi akan semakin mudah longsor, apalagi jika erosi terjadi di bagian bawah lahan miring/lereng.


  13. Wilayah miring yang memiliki tanah bertekstur halus, misalnya liat
  14. Tanah bertekstur halus susah meloloskan air dan cenderung lama menyimpan air sehingga memiliki kadar air yang tinggi dan mudah jenuh. Pada akhirnya akan lebih mudah tergelincir dan terjadi longsor.


  15. Wilayah miring yang sering mengalami getaran akibat gempa
  16. Gempa bumi ataupun getaran besar lainnya dapat menyebabkan lahan miring mengalami longsor karena mengurangi stabilitas tanah.


  17. Wilayah miring yang digunakan untuk aktivitas pertanian
  18. Aktivitas pertanian pada lereng atau lahan miring akan menyebabkan lahan menjadi gundul dan minim vegetasi yang kuat serta dapat meningkatkan beban tanah.



  19. Wilayah miring yang digunakan untuk permukiman
  20. Permukiman di lahan miring akan meningkatkan beban tanah dan meningkatkan erosi.



C. Faktor Pemicu Terjadinya Tanah Longsor

Tanah longsor tentunya tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya tanah longsor. Faktor pemicu tanah longsor dapat digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor statis dan faktor dinamis.

Faktor statis terjadinya tanah longsor yaitu
  1. Jenis Batuan dan Struktur Geologi
  2. Batuan yang mudah lapuk akan lebih rawan longsor. Batuan sedimen hasil gunung api seperti kerikil akan cepat lapuk menjadi tanah dan meningkatkan risiko longsor. Patahan dan retakan juga dapat memicu terjadinya tanah longsor.


  3. Kedalaman Tanah
  4. Tanah yang tebal atau dalam akan lebih mudah longsor karena menambah beban pada lereng. Apalagi ketika tanahnya jenur air.


  5. Permeabilitas Tanah
  6. Permebailitas tanah yang lambat akan memicu terjadinya longsor karena tanah mudah jenuh air.


  7. Tekstur Tanah
  8. Tanah yang memiliki tekstur halus akan mudah longsor karena susah meloloskan air sehingga mudah jenuh.


Sedangkan, faktor pemicu dinamis yang menyebabkan tanah longsor di antaranya adalah.
  1. Kemiringan Lereng
  2. Semakin curam lereng, maka risiko tanah longsor akan semakin tinggi.


  3. Curah Hujan
  4. Curah hujan yang tinggi akan meningkatkan bahaya tanah longsor karena tanah akan mudah jenuh air, menjadi lebih berat, dan mudah tergelincir di lereng.


  5. Penggunaan Lahan (Aktivitas Manusia)
  6. Penggunaan lahan yang tidak ramah lingkungan pada lahan miring akan meningkatkan beban lereng, meningkatkan erosi, dan mengurangi penahan stabilitas lereng. Misalnya, kegiatan pertanian dan pembangunan permukiman ataupun konstruksi pada lahan miring.


  7. Gempa Bumi
  8. Gempa bumi dapat menyebabkan getaran pada tanah yang kemudian dapat berdampak pada tanah longsor.



D. Tanda-Tanda Akan Terjadinya Tanah Longsor

Tanah longsor tidak terjadi begitu saja tanpa ada tanda-tandanya. Tentunya terdapat tanda-tanda atau gejala yang bisa kita amati sebelum terjadinya tanah longsor. Tanda-tanda tersebut diantaranya adalah.

 

  1. Munculnya retakan memanjang atau lengkung pada tanah atau konstruksi bangunan, yang biasa terjadi setelah hujan.

  2. Munculnya mata air baru setelah tiba-tiba dan muncul pancuran atau tetesan air dari dalam tanah.

  3. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
  4. Jika pada musim biasanya air tergenang, menjelang bencana tiba-tiba genangan air itu langsung hilang.
  5. Air sumur di sekitar tebing menjadi keruh. Mata air yang terdapat pada lereng juga menjadi keruh dan bercampur lumpur.
  6. Pintu dan jendela sulit dibuka, yang diakibatkan oleh deformasi bangunan yang terdorong oleh massa tanah yang bergerak.
  7. Runtuhnya bagian tanah dalam jumlah besar.

  8. Pohon/tiang listrik banyak yang miring searah kemiringan lereng.


  9. Halaman/dalam rumah tiba-tiba ambles.

  10. Terjadi penurunan tanah secara perlahan dalam jangka waktu tertentu.
  11. Terjadi retakan pada lantai dan tembok bangunan.
  12. Terdengar suara gemuruh dari atas lereng, disertai dengan getaran pada permukaan tanah.
  13. Jika terdapat early warning system, maka EWS akan lebih aktif dari biasanya.

E. Pengurangan Risiko Bencana Tanah Longsor

Pencegahan terhadap Bencana Tanah Longsor
Berbagai upaya pencegahan dapat dilakukan untuk mengurangi bahaya dan risiko tanah longsor. Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya adalah.

  1. Mengurangi tingkat keterjalan lereng.
  2. Membuat drainase yang mengarahkan air menjauhi lereng agar tanah tidak jenuh air.
  3. Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling.

  4. Membuat terasering dengan sistem drainase yang tepat (drainase pada teras-teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah).
  5. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40o atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diselingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan, di bagian dasar ditanam rumput.
  6. Membangun bangunan dengan pondasi yang kuat.
  7. Melakukan pemadatan tanah di sekitar perumahan.
  8. Pengenalan daerah rawan longsor.
  9. Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan

  10. Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat ke dalam tanah.
  11. Pondasi tiang pancang untuk menghindari bahaya likuifaksi.
  12. Tidak mendirikan bangunan permanen di daerah tebing dan tanah yang tidak stabil (tanah gerak).
  13. Waspada ketika curah hujan tinggi.
  14. Tidak menggunduli hutan dan tidak menebang pohon sembarangan.
  15. Membuat selokan yang kuat untuk mengalirkan air hujan.

Tanggap Darurat Bencana Tanah Longsor

Tanggap darurat menjadi suatu rangkaian kegiatan yang pelaksanaannya segera sesaat setelah terjadi bencana untuk menangani dampak buruk yang akan terjadi. Beberapa hal yang bisa dilakukan pada tahap ini meliputi:
  1. Kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban serta harta benda

  2. Perlindungan
  3. Pengurusan pengungsi
  4. Penyelamatan
  5. Pemulihan sarana dan prasarana
  6. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal sementara, kesehatan, sanitasi dan air bersih


Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Tanah Longsor
Rehabilitasi dilakukan sebagai upaya untuk perbaikan dan pemulihan terhadap segala aspek pelayanan publik atau masyarakat hingga tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana. Target utamanya adalah untuk menormalkan segala aspel pemerintahan dan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak. Wujud rehabilitasi adalah dengan:

  1. Memperbaiki lingkungan daerah bencana
  2. Perbaikan sarana dan prasarana umum
  3. Pemberian bantuan perbaikan rumah
  4. Pemulihan sosial psikologis
  5. Pelayanan kesehatan
  6. Rekonsiliasi dan resolusi konflik
  7. Pemulihan sosial ekonomi budaya
  8. Pemulihan keamanan dan ketertiban
  9. Pemulihan fungsi pemerintahan
  10. Pemulihan fungsi pelayanan public

Sementara itu, rekonstruksi (reconstruction) merupakan kegiatan guna merumuskan kebijakan, usaha, atau langkah nyata yang terencana dengan baik, konsisten serta berkelanjutan dalam membangun semua sarana, prasarana, dan kelembagaan secara permanen baik di tingkat pemerintah maupun masyarakat.